ARTIKEL


Universitas Siswa Bangsa International

Jurnalis

Separuh Lebih Kaum Muda di Jabodetabek Tidak Tertarik Ikut Pemilu Legislatif

News Logo

Penelitian dilakukan oleh USBI terhadap lebih dari seribu responden dengan tingkat keyakinan 95% dan margin of error penelitian +/- 3 persen.

 

Jakarta, 4 April 2014  Pemilih pemula (new voters) dan pemilih muda (young voters) di Indonesia yang berusia antara 17-25 tahun mewakili khalayak pemilih yang cukup besar, sekitar 40 juta jiwa. Untuk wilayah Jabodetabek, mereka berjumlah sekitar 4 juta jiwa. Kaum muda ini memiliki suara yang penting bagi partai maupun calon presiden yang bersaing di pemilihan umum (pemilu). Sebagai contoh kasus, jika saja Mitt Romney (Partai Republik) berhasil menarik setengah dari suara pemuda di Florida, Ohio, Pennsylvania, dan Virginia, maka ia akan terpilih sebagai Presiden AS, bukan Barack Obama.

 

Sayangnya sejumlah studi memperlihatkan partisipasi pemilih muda ini cenderung semakin berkurang karena sejumlah alasan, seperti semakin lunturnya ideologi, perilaku negatif partai politik, dan buruknya pelajaran kewarganegaraan di sekolah. Kondisi semacam ini mendorong Fakultas Bisnis Universitas Siswa Bangsa Internasional melakukan studi untuk mempelajari keinginan para pemilih muda yang sedang sekolah dan kuliah terhadap keinginan mereka untuk memilih. ”Hal ini kami lakukan sebagai bentuk pengabdian masyarakat, sebagai bentuk penelitian independen yang tidak dibayar oleh partai politik mana pun,” tutur Prof. Dr. Aman Wirakartakusumah, Rektor Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI).

 

Studi ini dimulai dengan mengumpulkan 50 mahasiswa untuk menyampaikan masalah-masalah yang menurut mereka penting diperjuangkan atau dilaksanakan oleh Parpol. Dari delapan topik, ekonomi, politik, hukum, sosial, keamanan, pendidikan, teknologi dan kebudayaan, menurut para mahasiswa tak kurang dari 111 permasalahan yang seharusnya menjadi tindakan parpol untuk diperbaiki. Dari 111 permasalahan ini, kembali diujikan ke 50 mahasiswa yang berbeda untuk menentukan mana permasalahan yang paling penting yang harus dipecahkan oleh parpol. Dari sini kemudian terkumpul 48 permasalahan yang kemudian ditanyakan kepada mahasiswa di Jabodetabek.

 

“Agar dapat menjelaskan secara cukup representatif, studi ini melibatkan tak kurang dari seribu pelajar mahasiswa di wilalayah Jabodetabek sebagai responden,” jelas Prof. Adler H. Manurung, Dekan Fakultas Bisnis USBI. Dengan tingkat keyakinan 95% maka margin of error penelitian ini adalah +/- 3 persen. Menggunakan survey berdasarkan kuota sekolah yang mewakili tingkat status sosial ekonomi yang berbeda-beda, studi ini menggunakan purposive sampling method, dengan melibatkan reponden sebanyak 1.039 pelajar dan mahasiswa di Jabodetabek.

 

Hasil penelitian memperlihatkan dari sejumlah masalah yang menurut para mahasiswa penting untuk dipikirkan dan dipecahkan oleh parpol yang memiliki wakil-wakil di DPR, hanya sebagian kecil yang telah mereka lakukan. Sebagai besar mahasiswa menganggap parpol tidak melakukan apa pun terhadap ke delapan topik permasalahan yang mereka anggap penting.

Menurut responden parpol tidak memperlihatkan upaya-upaya mengatasi permasalahan ekonomi (24,46 persen); tidak mengatasi masalah politik (43,62 persen); tidak memperbaiki masalah hukum (47,43 persen); tidak memperbaiki masalah-masalah sosial (45,72 persen);  tidak berusaha mengatasi masalah-masalah keamanan (50,53 persen); tidak berupaya memperbaiki pendidikan (47,37 persen); tidak berusaha meningkatkan kemampuan teknologi (54,55 persen); dan tidak peduli terhadap masalah-masalah kebudayaan (46 persen). Mahasiswa juga memberikan pendapat  terhadap partai-partai yang menurut mereka cukup memberikan perhatian terhadap kedelapan permasalahan tersebut.

 

Berdasarkan semua alasan tersebut, terakhir responden dimintakan pendapatnya parpol yang kelak akan dipilihnya dalam pemilu legislatif mendatang. Ternyata 53,23 persen di antara mereka menyatakan tidak akan memilih dalam Pemilu Legislatif mendatang.

 

Sedangkan bagi mereka yang memilih, pilihan terbesar diperoleh oleh PDIP (15,16 persen); diikuti berturut-turut oleh Gerindra (8,06 persen); Partai Demokrat (5,73 persen); Partai Hanura (3,71 persen) Partai Golkar (3,61 persen); Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (masing-masing 3,18 persen); Partai Kebangkitan Bangsa (1,48 persen); Partai Amanat Nasional (1,27 persen); Partai Persatuan Pembangunan (0,74 persen); PKPI (0,42 persen) dan PBB (0,21 persen).

 

“Penelitian ini dilakukan sebelum Jokowi dideklarasikan sebagai calon Presiden,” jelas Dr. M. Gunawan Alif, Head of School of Management USBI yang memimpin penelitian ini. Menurutnya hasil deklarasi semacam itu dapat memberikan pengaruh karena sejumlah studi mengenai voter turn out memperlihatkan bahwa keinginan untuk berpartisipasi dalam Pemilu akan meningkat jika persaingan di antara kandidat semakin kompetitif dengan munculnya sejumlah kandidat yang kredibel, berintegritas, dan memiliki program yang disenangi oleh khalayak yang akan memilih mereka. Suatu hal yang memperlihatkan parpol harus berbenah jika mereka ingin menarik pemilih mudah ke tempat pencoblosan suara.

 

“Hal ini menjadi sangat penting, karena kaum muda ini yang akan melaksanakan upaya-upaya demokrasi di masa depan. Sementara sejumlah studi memperlihatkan jika mereka pada saat pertama tidak ikut memilih, mereka akan merasa tidak merugi jika tidak memilih di pemilu berikutnya,” ujar Gunawan Alif menekankan pentingnya mengikutsertakan pemilih muda ini dalam Pemilu.


Tentang Universitas Siswa Bangsa Internasional

 

Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), Sampoerna University - universitas di bawah naungan Putera Sampoerna Foundation, diluncurkan atas kepedulian Putera Sampoerna Foundation terhadap pembangunan ekonomi Indonesia melalui pendidikan. Didirikan sebagai salah satu upaya efektif untuk peningkatan akses ke pendidikan berkualitas standar internasional bagi generasi muda Indonesia serta komitmen untuk menciptakan pemimpin masa depan yang berkaliber tinggi. Berdirinya Universitas Siswa Bangsa Internasional tidak lepas dari berdirinya Putera Sampoerna Foundation di tahun 2001 dan rekam jejaknya dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. Cikal bakal universitas muncul di tahun 2009, di saat Putera Sampoerna Foundation mendirikan Sampoerna School of Education, dan Sampoerna School of Business di tahun 2010. Di tahun 2013, Sampoerna School of Education dan Sampoerna School of Business kini menjadi Fakultas Pendidikan dan Fakultas Bisnis di bawah naungan USBI, dengan penambahan dua Fakultas baru, yaitu Fakultas Sains & Teknologi dan Fakultas Seni, Desain & Media, serta pusat bahasa Institut Bahasa dan Komunikasi.

 

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Sandra Darmosumarto

Public Relations Manager

Putera Sampoerna Foundation

Tel: (021) 577 2340 Fax: (021) 577 23 41

Email: sandra.darmosumarto@sampoernafoundation.org


Kirim Print


Comments

dowbousrab | 01/01/1970 07:00

ebsxidbsjlbnqvt, http://www.wnbjrjhwba.com/ wqhoehodub

lylnvcudro | 01/01/1970 07:00

aatzbdbsjlbnqvt, [url=http://www.nlunqpkwsa.com/]rbxwlblgxp[/url]

glzrjdgdzs | 01/01/1970 07:00

mhuefdbsjlbnqvt, http://www.sjvsmlzvgw.com/ ospjblvgwy

kqwmilpjem | 01/01/1970 07:00

zgpkidbsjlbnqvt, [url=http://www.plxnjzcvlf.com/]vyccylslxj[/url]


Comment Reply

Nama
Email
Website
Comment
Captcha