ARTIKEL


Ahmad Surya Maolana

Tokoh

Pustakawan yang sukses di dunia Futsal

News Logo

Tahun 2010 merupakan tahun gemilang bagi Tim nasional (Timnas) Futsal Indonesia. Tidak seperti sepakbola, yang sepi prestasi internasional, Timnas Futsal Indonesia menjadi penguasa di Asia tenggara dengan menjadi Juara piala AFF. Ahmad surya maolana adalah salah satu pemainnya. Berposisi sebagai penjaga gawang, bungsu dari lima bersaudara ini memang hanya menjadi pelapis rekannya di Timnas, Yos Adi wicaksono.


(Surya, paling kiri, bersama rekan sekaligus pesaingnya di timnas, yos adi)           


Bukan tanpa alasan, carikampus.com mengangkat surya, demikian dia disapa, menjadi tokoh kali ini. Latar belakang dan perjalanan surya cukup menarik. Surya berasal dari keluarga betawi tulen yang tinggal di daerah kampung sawah, perbatasan jakarta selatan dan depok. Ayahnya, Sarmili, adalah seorang pelatih voli dan ibunya hanya ibu rumah tangga. Di masa kecilnya, surya bercita-cita menjadi tentara. Orang tuanya mendukung surya kecil dengan membelikan bermacam mainan atau pernak-pernik tentara. Namun ketika di jenjang SD, surya menjadi seorang atlet voli. Tidak mengherankan, karena sang ayah, Sarmili (biasa dikenal dengan nama babe sarmili), adalah seorang pelatih voli. Bahkan ketika SD, surya sempat memperkuat tim voli untuk bertanding di tingkat Nasional. Seiring waktu berjalan, surya sering bermain sepak bola dengan teman-teman seusianya di wilayah rumahnya, kampung sawah, depok, dan menemani ayahnya menonton sepakbola di televisi. Suatu saat, ketika menonton di televisi, surya terpukau melihat penampilan penjaga gawang manchester united, Peter Schmeichel. "Penampilannya keren dan gagah" kenang surya. Hal ini yang menjadi cikal bakal surya menjadi saat ini. Awalnya memang hanya suka, tapi lama kelamaan, surya justru semakin mendalami dan yakin dengan pilihannya, menjadi penjaga gawang.


(berposisi sama dengan idolanya, Peter Schmeichel)

Saat SMA, surya memutuskan untuk serius bergelut di dunia sepak bola. Pada awalnya, keputusan dia kurang mendapat dukungan dari orangtuanya, "jangan jadi atlet, gak menjanjikan" kata surya mengenang pepatah dari ibunya. Namun dalam perjalanannya, surya justru semakin menggeluti sepakbola. Banyak pengalaman dan prestasi diraihnya ketika SMA, salahsatunya adalah mengikuti pekan olahraga pelajar nasional (POPNAS) di Makasar. Karena prestasinya itu, surya mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta yang mengadakan penerimaan melalui jalur prestasi bidang olahraga. Surya dengan beberapa temannya yang juga bermain sepakbola langsung mendaftar dan diterima. Namun mereka urung mengambil kuliah karena ternyata biaya untuk mengikuti kuliah sebesar 10 juta, jauh dari yang ditawarkan, sekitar 5 juta. Orangtua surya lalu memberi masukan dan mendaftarkan surya untuk megikuti ujian masuk di Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Manajemen Informasi dan Dokumen (MID) strata diploma (D3). Ternyata surya diterima dan berkuliah di MID. Pada awalnya, surya yang saat itu bersifat introvert, kurang begitu suka karena bukan murni pilihan dia. Sampai saat kuliah, dia ternyata tetap menggeluti sepakbola. Di tahun-tahun awal, surya masih sibuk mengikuti seleksi pra PON sepakbola untuk wilayah DKI Jakarta. Namun karena hal internal, seleksi tersebut dibubarkan. karena hal itu pula, surya vakum dari dunia sepakbola dan serius dalam perkuliahannya dan hanya berlatih bersama Sastra FC di wilayah kampus.

Tanpa disadarinya, kehidupan kampus justru mengubah surya yang introvert menjadi terbuka dan supel bergaul. "Sekarang, ternyata dunia sosial di kampus yang sangat berguna dibandingkan ilmu yang saya dapat." demikian sambung pria kelahiran november 1985 ini. Modal pergaulan di dunia kampus ini yang ternyata membawa surya menjadi seperti saat ini. Beberapa kali dia ikut memperkuat Sastra FC bertanding, sampai suatu saat, Hariyanto, seorang pelatih tim futsal, My futsal, melihat kemampuan surya di bawah mistar dan tertarik untuk mengajak bergabung dengan My futsal. Ternyata karier surya di futsal melejit dengan cepat. Di tahun pertamanya, dia langsung tergabung dengan skuad My futsal mengikuti liga pro, liga futsal tertinggi di Indonesia. Memang semua tak berjalan sempurnya, my futsal hanya menempati peringkat 4 dengan catatan sebagai debutan di liga pro. Bahkan surya dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas Futsal, namun gagal. Kontrak yang hanya setahun tak membuat dia jera mendalami futsal. Di tahun keduanya, surya direkrut oleh klub Biang bola, juara bertahan. di tahun ini Biang bola memang hanya menjadi runner up, namun bagi surya, prestasi ini menjadi prestasi yang tinggi secara individual. Permainan yang kian apik membuat dia kembali dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas futsal dan kali ini lolos dan didaftarkan bermain di piala AFF 2010. Bahkan di tahun yang sama, surya bersama Timnas juga membawa nama Indonesia ke tingkat piala Asia di Uzbekistan, namun gagal di babak penyisihan karena hanya menempati peringkat ketiga grup. Prestasi-prestasi yang ditorehkan di dunia olahraga ternyata tak membuat kuliahnya terbengkalai. "harus pintar-pintar me-manage atau mengatur waktu." kata surya ketika ditanyakan mengenai kiat-kiatnya.


(Surya, paling kanan bawah, bersama Timnas FUTSAL menjuarai AFF CUP 2011)

Perjalanannya bersama timnas futsal ternyata membawa cerita tersendiri. "Ya gimana, kita sudah menjalankan kewajiban, namun terkadang hak kita justru tersendat" katanya. Namun surya ternyata tak jera dengan pilihan dia di dunia futsal. Selepas memperkuat timnas, surya langsung dipanggil untuk memperkuat Jatim FC di liga pro.

Lalu, apa hubungan pendidikan sebagai pustakawan di jurusan MID dengan dunia futsal?. "Ya gak ada kalo dalam hal ilmu. Tapi dunia perkuliahan yang membentuk saya menjadi terbuka dan mudah bersosialisasi." jelas surya. "Satu lagi, atlet yang bagus pasti memiliki kecerdasan yang tinggi. Bayangkan, dalam sepersekian detik, dia harus bisa mengambil keputusan. Jadi ada hubungannya antara pendidikan dengan olahraga, tapi ingat, kecerdasan, bukan kepandaian hitam di atas putih (baca: Raport)." lanjut surya yang selama kuliah memang berprestasi akademik rata-rata (IPK 3) karena menganggap kecerdasan yang lebih penting ketimbang kepandaian.

Perjalanan hidup seorang surya memberi pelajaran berarti bahwa kita tidak akan pernah dikecewakan oleh pilihan kita sendiri jika kita serius menggelutinya. "Jangan ragu-ragu ambil keputusan, memang semua harus ada pengorbanan" pesan surya. "Belajarlah yang benar" lanjutnya untuk disampaikan kepada kaum muda yang bergelut di berbagai hal, terutama di dunia pendidikan. (NjeP)


Kirim Print


Comments


Comment Reply

Nama
Email
Website
Comment
Captcha