ARTIKEL

Anton A. Setyawan

Pakar

Sekolah Bisnis vs Entrepreneur

Dilema sekolah tinggi vs praktek langsung di lapangan masih terus kita jumpai dalam kenyataan sehari-hari. Keduanya memiliki sisi positif dan negatif masing-masing. Manakah yang harus kita pilih?

Asep (29 tahun) adalah seorang pengusaha muda, dengan asset miliaran Rupiah. Bisnis utamanya adalah peternakan ayam. Semua dibangun setelah beberapa kali mengalami kebangkrutan. Latar belakang pendidikan Asep adalah drop out kuliah pada tahun kedua. Tulisan tentang Asep dimuat di sebuah harian nasional terkemuka  beberapa waktu yang lalu. Kisah lain dialami pemilik Ayam Goreng Mas Mono yang mempunyai beberapa cabang di Jakarta, seperti diceritakan di sebuah televisi swasta. Mas Mono adalah lulusan SMU yang pernah menjadi office boy. Namun, saat ini bisnis ayam bakar dan kateringnya beromzet puluhan juta per bulan. Antara Asep dan Mas Mono mempunyai kesamaan, keduanya tidak pernah mendapatkan pendidikan bisnis secara formal. 

Sisi cerita lain, setiap tahun Fakultas Ekonomi dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di seluruh Indonesia meluluskan ribuan sarjana ilmu bisnis (manajemen dan akuntansi) dengan gelar S1 dan S2. Selanjutnya, para sarjana S1 dan S2 itu beramai-ramai antre mencari pekerjaan yang bergengsi. Ada sebagian kecil yang berhasil, namun ribuan lainnya terpaksa bekerja tidak sesuai dengan keinginannya (dengan bayaran kecil) atau mengalami nasib yang lebih buruk yaitu menjadi pengangguran terdidik.

Dua sisi kisah ini menjadi pengantar dari sebuah masalah serius yang sedang dialami negeri ini, yaitu pendidikan bisnis yang tidak mampu menjawab masalah riil yaitu pengangguran (terdidik). Penulis yakin, setiap mahasiswa S1 atau S2 saat ini berharap setelah lulus akan mendapatkan pekerjaan layak sebagai eksekutif perusahaan. Sangat sedikit diantara mereka yang berkeinginan menjadi pengusaha tangguh yang mampu menciptakan pekerjaan sendiri. Padahal mereka sangat terdidik untuk menjadi pebisnis handal. Pertanyaannya apa sebenarnya yang diajarkan di sekolah-sekolah bisnis dengan nama Fakultas Ekonomi jurusan manajemen dan akuntansi dan STIE yang begitu banyak di negeri ini. Mengapa lembaga-lembaga itu tidak mampu mencetak pebisnis handal.

Kurikulum vs Dunia Bisnis

Kurikulum di dalam sekolah bisnis pada umumnya mengacu pada kurikulum baku di perguruan tinggi. Ada beberapa sekolah bisnis yang baik dan selalu melakukan perbaikan kurikulum sesuai dengan perkembangan dunia bisnis. Pada umumnya di dalam sekolah bisnis diajarkan mata kuliah keahlian dalam dunia bisnis sesuai dengan kebutuhan. Secara umum keahlian di dalam ilmu bisnis dibagi menjadi lima, yaitu bidang pemasaran, keuangan dan akuntansi, sumber daya manusia, operasional dan manajemen stratejik. Pendekatan yang dilakukan hampir pasti dengan metode klasikal di dalam kelas dengan pembahasan mengenai konsep-konsep bisnis. Sekolah bisnis pada umumnya mengajarkan alat analisis untuk mengambil keputusan dalam dunia bisnis.

Hasil akhir dari sekolah bisnis Indonesia adalah pakar bisnis dengan pendekatan akademik. Pertanyaannya seberapa kompeten para sarjana ilmu bisnis ini pada saat terjun dalam bisnis yang nyata sebagai pengusaha. Masalahnya dalam dunia bisnis ada beberapa hal yang tidak bisa dipelajari yaitu intuisi, keberanian dan inovasi. Biasanya para pengusaha sukses mempunyai tiga kemampuan itu. Pengusaha sukses mempunyai intuisi atau feeling dalam menangkap peluang bisnis, dan hal ini sangat jarang dimiliki oleh para sarjana bisnis. Keberanian adalah hal lain yang menjadi keunggulan para pengusaha sukses. Penulis menduga para pengusaha sukses itu berani justru karena mereka tidak mempunyai ilmu bisnis, jika menggunakan ilmu bisnis mereka akan memperhitungkan banyak hal dan bisa jadi akhirnya tidak jadi memulai sebuah usaha.

Para pengusaha sukses biasanya adalah seorang inovator baik dalam menangkap peluang pasar baru atau membuat sebuah produk baru. Sebagai contoh, siapa yang menduga bahwa situs internet www.tube.com pada awalnya hanya sebuah keisengan dari dua anak muda yang kesulitasn meng-upload video di internet. Situs ini berkembang menjadi sebuah situs yang paling banyak dikunjungi dan kemudian diakuisisi oleh Google dengan nilai pembelian mencapai miliaran Dollar. Ini adalah sebuah inovasi yang dilakukan dua anak muda AS yang juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan bisnis. Paparan ini menunjukkan ada ketidaksesuaian antara kurikulum dalam sekolah bisnis dengan kondisi nyata dalam dunia bisnis.

Penjara Pikiran

Para sarjana bisnis saat ini ternyata masuk dalam sebuah penjara pikiran. Penjara pikiran ini terjadi justru karena mereka menguasai ilmu bisnis dengan baik. Pada saat mereka menguasai ilmu bisnis dengan baik maka mereka akan memperhitungkan segala aspek dalam bisnis, sehingga keputusan akhir yang diambil terlalu lama. Padahal, pengusaha memerlukan keputusan yang cepat. Gillian et al (1992) dalam sebuah tulisannya mengatakan model-model yang dipergunakan dalam ilmu bisnis terkadang tidak sesuai dengan kondisi nyata. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Johson dan Winchern (2002) dalam buku Multivariate Statistics, bahwa “all models are wrong but some are useful”
 artinya semua model (bisnis) adalah salah tetapi beberapa (model) bisa digunakan. Pernyataan dua pakar bisnis ini adalah sebuah pengakuan tentang kelemahan pengajaran di sekolah bisnis saat ini.

Tulisan ini adalah sebuah keprihatinan tentang kondisi saat ini di tanah air dimana begitu banyak pengangguran terdidik, khususnya mereka para lulusan sekolah bisnis baik S1 maupun S2. Sekolah bisnis harus mulai melakukan perubahan pendekatan menjadi sekolah calon pengusaha, sehingga kurikulum yang digunakan mampu menempa mereka menjadi pengusaha tangguh atau eksekutif perusahaan yang handal.

Tentang penulis: Anton A. Setyawan, Pengajar Jurusan Manajemen Bisnis Univ. Muhammadiyah Surakarta dan mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Manajemen UGM

Sumber: scribd.com

Gambar: washingtonmonthly.com